Monday, 9 February 2015

Empat Masalah Dan Solusinya



Jika kalian merasakan empat masalah berikut, cobalah periksa dan perbaiki

1. Jika kalian diuji dengan syahwat dan hawa nafsu, periksalah sholat kalian

"Maka datang sesudah mereka suatu keturunan yang mereka telah melalaikan sholat dan memperturutkan syahwat hawa nafsunya.". (QS. Maryam : 59)

2. Jika kalian merasa keras hati, perperangai buruk, sengsara dan tidak adanya kemudahan, periksalah hubungan dengan ibumu dan baktimu kepadanya

"Dan (Dia jadikan aku) berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka". (QS. Maryam : 32)

3. Jika kalian merasa depresi, tertekan dan merasakan kesempitan dalam hidup, periksalah interaksimu dengan al-Qur'an

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (al-Qur'an - berdzikir), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit". (QS. Thaha : 124)

4. Jika kalian merasa kurang tegar dan tegus di atas kebenaran dan gangguan kegelisahan, maka periksalah bagaimana pelaksanaanmu terhadap nasehat dan mauzhah yang kalian dengar

"Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (iman mereka)". (QS. an-Nisa : 66)

Sunday, 8 February 2015

15 Hikmah Sakit



Inilah 15 hikmah dari sakit menurut Salim A Fillah

1. Sakit Itu Dzikrullah
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan  syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

2. Sakit Itu Istighfar
Dosa-dosa akan mudah teringat jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk memohon ampun

3. Sakit Itu Tauhid
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit kalimat thoyibat yang akan terus digetar?

4. Sakit Itu Muhasabah
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenung diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali

5. Sakit Itu Jihad
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, diwajibkan terus berikhtiar berjuang demi kesembuhannya

6. Sakit Itu Ilmu
Bukankah ketika sakit, dia akan memerika, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit

7. Sakit Itu Nasihat
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang pada keduanya.

8. Sakit Itu Silaturahmi
Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk dengan penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah

9. Sakit Itu Penggugur Dosa
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicucikan-Nya.

10. Sakit Itu Mustajab Doa
Pernah suatu ketika Imam as-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yang sakit

12. Sakit Itu Membuat Sedikit Tertawa dan Banyak Menangis
Sikap inilah yang merupakan suatu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

13. Sakit Meningkatkan Kualitas Ibadah
Rukuk, sujud jadi lebih khusyuk. Tasbih-istighfar jadi lebih sering. Tahiyyat-doa jadi lebih lama.

14. Sakit Itu Memperbaiki Akhlak
Kesombongan jadi terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

15. Sakit Itu Mengingatkan Kematian
Dengan sakit kita jadi lebih sering mengingat mati, sehingga ketaqwaan menjadi meningkat.

Bagi kalian yang sedang sakit, tetap bersabar dan terus berusaha serta berdoa, semoga sakitnya akan diangkan oleh-Nya

Wednesday, 4 February 2015

Hati-hati Tentang Mindset



 Dahulu kala, tersebutlah seorang pengusaha kaya. Ia memiliki perusahaan yang cukup besar. Namun menjelang akhir hayatnya, Ia hanya mewariskan sebagian kecil dari perusahaannya untuk dikelola oleh kedua anak lelakinya.

Sebelum sang ayah menghembuskan nafas terakhir, dia memberi pesan kepada kedua anaknya,  "Anakku, dua pesan penting yang ingin ayah sampaikan kepadamu untuk keberhasilan hidupmu. Pertama: Jangan pernah menagih piutang kepada siapapun. Kedua: Jangan pernah tubuhmu terkena terik matahari secara langsung."

5 tahun berlalu, sang ibu menengok anak sulungnya dengan kondisi bisnisnya yang sangat memprihatinkan.

Ibu pun bertanya, "Wahai anak sulungku, mengapa kondisi bisnismu demikian?"

Si sulung menjawab, "Saya mengikuti pesan ayah, bu. Sayadilarang menagih piutang kepada siapapun sehingga banyak piutang yang tidak dibayar dan lama-lama habislah modal saya. Pesan yang kedua adalah ayah melarang saya terkena sinar matahari secara langsung dan saya hanya mempunya sepeda motor, itulah sebabnya saya pergi dan pulang kantor naik taksi."

Kemudian sang ibu pergi ke tempat si bungsu keadaannya berbeda jauh. Si bungsu sukses menjalankan bisnisnya.

Sang ibu pun bertanya. "Wahai anak bungsuku, hidupmu sedemikian beruntung, apa rahasianya?"

Si bungsu menjawab. "Ini karena saya mengikuti pesan ayah, nu. Pesan pertama saya dilarang menagih piutang kepada siapapun, oleh karena itu saya tidak pernah memberikan hutang kepada siapapun sehingga modal saya tetap utuh. Pesan kedua saya dilarang terkena sinar matahari secarang langsung, maka dengan motor yang saya punya, saya selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Sehingga waktu saya untuk melayani pelanggan jauh lebih banyak."

Demikianlah sepenggal kisah mengenai si bungsu dan si sulung yang saling berbeda mindset. Betapa pentingnya mindset hingga dapat merubah kehidupan seseorang. Maka dari itu, marilah kawan, coba kita renungkan kembali apakah mindset yang selama ini kita terapkan sudah benar atau masih memiliki kekurangan. jangan pernah berhenti untuk belajar dan terus merenung tentang apa yang kita lakukan sehari-hari.

Sunday, 1 February 2015

Seorang Anak Yang Tak Pernah Datang Ke Masjid



Maukah kalian kuceritakan sebuah kisah? Kisah ini selalu terulang meski dengan aktor yang berbeda.
Sebuah kisah yang bercerita tentang anak manusia yang sangat jarang atau bahkan tak pernah datang ke masjid.

Suatu hari dia memasuki sebuah masjid, orang-orang pun mengikutinya dari belakang. Sesampainya di masjid diang mengambil posisi yang terdepan, bahkan lebih depan dari posisi imam. Rupanya Ia datang bukan untuk bertaubat, tapi sebagai jenazah yang terlambat mengerti arti hidup yang sesungguhnya.

Semoga kita bukan aktor selanjutnya dari kisah itu.

Selagi ada waktu, sambutlah hidayah itu. Lakukanlah yang terbaik sembari berharap agar semua berakhir indah. Bergegaslah, karena ajal tak menunggu taubatmu.

Berkah Pengajian


Apa untungnya ikut pengajian? begitulah pertanyaan orang yang cenderung berpikiran pragmatis. Menilai sesuatu berdasarkan manfaat atau keuntungan yang bisa diperolehnya. Sesuatu dianggap baik, benar, atau bisa diterima kalau menguntungkan dan seringkali keuntungan yang dimaksud adalah keuntungan materialistik. Memang seperti itulah kecenderungan pola pikir masyarakat urban.

Kendati begitu, iktu pengajian sebetulnya memang banyak keutamaannya.

Pertama: Ikut pengajian berarti melangkahkan kaki untuk menuntut ilmu. Dan melangkahkan kaki untuk menuntut ilmu sama dengan memudahkan langkah kaki ke surga. Rasulullah diriwayatkan pernah bersabda, "Siapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga".(HR. Muslim). Akan tetapi, sebagian orang mungkin merasa suatu pengajian yang ada tidak memberi banyak ilmu kepadanya, sehingga ia tidak tertarik untuk mengikuti pengajian. Namun, penilaian seperti ini seringkali kesimpulan yang terburu-buru. Baru mengikuti sekali pengajian atau baru mengikuti pengajian setengah jam, orang sudah menyimpulkan kalau pengajian itu tidak memberinya apa-apa. Padahal, ikut pengajian itu diibaratkan oleh para ulama seperti berburu atau memancing. Siapa yang berburu atau memancing, dialah yang dapat, sekalipun ada kalanya ia mendapat sedikit dan adakalanya ia mendapat banyak.

Kedua: Ikut pengajian berarti bergaul dengan orang-orang sholeh dan orang-orang alim. Bergaul dengan orang sholeh termasuk tombo ati (obat hati). Kesholehan dan ilmu mereka akan menjadi penyejuk hati. Berkenaan dengan pentingnya bergaul dengan orang Sholeh, Rasulullah diriwayatkan pernah bersabda, "Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau mendapatkan bau asapnya yang tak sedap". (HR. al-Bukhari dan Muslim). Pengajian menjadi lingkungan pergaulan yang menunjang keberagamaan kita. Dalam pengajian, kita berdekatan dengan orang-orang yang menyemangati keberagamaan kita. Rasulullah diriwayatkan pernah bersabda, "Seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya." (HR. Abu Dawud dan at-Tarmidzi)

Ketiga: Ikut pengajian berarti mengeratkan tali persaudaraan, kebersamaan dan silaturahim. Rasulullah diriwayatkan pernah bersabda, "Siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah bersilaturahim." Selain itu, dengan kebersamaan, kita lebih mudah untuk saling menolong. Pengajian bisa menjadi pintu bagi pertolongan Allah. Dalam sebuah hadist dikatakan, "Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba-Nya mau menolong saudaranya". Pada zaman sekarang, frekuensi komunikasi tatap muka semakin dikalahkan oleh komunikasi via monitor. Secara psikologis, ini berdampak buruk bagi manusia. Manusia menjadi kurang peduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, dan kemampuannya dalam interaksi interpersonal melemah. Pengajian adalah salah satu forum di mana kita bisa 'melepas lelah' dari kepenatan komunikasi jarak jauh dan membangun kebersamaan yang lebih ber-energi.

Keempat: Ikut pengajian berarti bersiap-siap untuk beramal sholeh lebih banyak lagi. Dengan mengikuti pengajian, kita tidak hanya bisa meraih manfaat, tapi juga menebar manfaat. Seringkali dalam suatu pengajian dibicarakan suatu keabikan yang bisa dilakukan. Setelah pengajian kita mempunyai semangat untuk berbuat baik lebih banyak. Pengajian adalah termasuk 'keramaian yang menyemangati'.

Kelima: Ikut pengajian berarti menjauhkan diri dari dosa dan maksiat. Ini berarti meski tertidur dalam pengajian kurang baik, tapi masih lebih baik ketimbang tidak menghadiri pengajian d an hadi di tempat yang kurang steril dari dosa. Menurut penelitian, otak manusia masih merekam keadaan di sekitarnya sekalipun dalam keadaan tidur.

Sumber: Buletin jum'at al-Wasath






Wednesday, 28 January 2015

Jangan Pernah Menyesali Amal



Ini merupakan sebuah kisah nyata.

Di suatu tempat ada seseorang yang bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Pada suatu hari Ia berencana untuk mengeluarkan uangnya untuk beramal dan membayar semua hutang-hutangnya karena Ia tahu bahwa esok hari Ia akan mendapatkan uang. maka Ia pun mengeluarkan uang untuk yang Ia rencanakan. 

Keesokan harinya di lokasi parkir, Ia mendapat kabar bahwa uang hasil kerjanya tidak bisa Ia dapatkan hari itu juga. Gajinya baru akan keluar minggu depan. Ia pun kaget dan bingung ketika mengecek dompetnya. Ternyata, uang yang tersisa tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhannya hingga minggu depan. 

Ada rasa sedikit menyesal mengenai apa yang telah Ia lakukan kemarin dengan sebagian besar uangnya. Sampai akhirnya Ia sadar lalu mengucapkan, "innalillahi wa innailaihi roji'un". Ia ingat ayat al-Qur'an yang baru saja Ia baca tadi pagi. Ia sadar bahwa Ia harus ikhlas. 

Ketika hendak ia menjalankan motornya, Ia mengambil STNK. Tak disangka, di antara selipan STNK, terdapat sejumlah uang yang tersimpan yang jumlahnya ternyata cukup untuk memenuhi kebutuhannya hingga minggu depan. Ia merasa bersyukur dengan adanya uang tersebut, padahal sebelumnya Ia tak pernah menyimpan uang di sana.

Dari kisah di atas, kita bisa ambil hikmahnya, bahwa sessungguhnya Allah telah berfirman dalam surat al-Baqoroh ayat 155-156 yang artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jjiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Innalilahi wa innailaihi roji'un""

So, buat teman-teman sekalian, jangan pernah menyesal karena kita telah beramal, karena sesungguhnya sedikit cobaan itu datang kepada orang yang beriman. Rezeki itu datangnya bukan dari manusia, melainkan datangnya dari Allah. Semua akan datang dan kembali hanya kepada-Nya.

Wednesday, 17 September 2014

Sepatu Sang Raja




Kisah itu bercerita tentang seorang raja. Ia raja yang baru naik tahta. Sebagai raja yang baik, program pertama yang dicanangkannya adalah berkeliling ke seluruh negeri untuk mengetahui keadaan rakyatnya sekaligus mengecek wilayah kekuasaannya.

Nah, mulailah ia mengarungi gunung dan segenap lembah negerinya. Ia bertatap muka dengan rakyatnya yang hidup di ujung pantai. Ia bersambung rasa dengan rakyatnya yang tinggal di pelosok hutan.

Saat kembali ke istana, sang raja merasa sangat lelah. Kakinya nyeri. Ini akibat perjalanan yang ditempuhnya begitu panjang dan bermedan berat. Dan itu benar-benar ditapaki dengan telapak kaki sang raja sendiri. Ia tidak mau tandu. Maklum, ia ingin merasakan juga apa yang dirasakan oleh prajurit-prajurit yang berjalan mengiringnya dalam perjalanan itu.

Perjalanan itu bukanlah perjalanan pertama dan yang terakhir. Sang raja telah berjanji akan selalu berkeliling dan mendekat kepada rakyatnya. Tapi, nyeri kaki yang dirasakannya membersitkan ide untuk tidak akan melakukan tur seperti itu lagi. Hati kecil sang raja menolak. Tidak. Bukan begitu. Itu tidak bijaksana.

Sambil memijit-mijit kakinya yang sakit, sang raja berpikir keras. Bagaimana caranya bisa berjalan jauh tanpa perlu merasakan nyeri di kaki? Aha, dia menemukan jawabannya. “Kalau saja jalan-jalan yang aku lalui dilapisi kulit dan permadani, tentu kakiku akan merasa nyaman,” begitu gumamnya.

Segera raja itu memerintahkan para prajuritnya untuk melapisi jalan dengan kulit. Semua jalan, tanpa kecuali. Namun, sebelum proyek besar itu dilaksanakan, penasehat raja menginterupsi.

“Tuanku, jika rencana itu dilaksanakan kita akan memerlukan banyak sekali kulit dan permadani. Biayanya besar. Akibatnya, menguras keuangan negara. Jelas itu bukan keputusan yang bijak,” kata sang penasihat raja.

Sang raja tertegun mendengar bantahan atas titah pertamanya itu. Tapi, karena ingin mewarisi kebijakan raja-raja pendahulunya, ia mencoba berlapang dada.

“Lalu, apa pendapatmu tentang hal ini?” tanya sang raja.

Sang penasihat bangkit dari tempat duduknya, mendekat ke singgasana raja.

“Tuanku, mengapa Anda harus mengeluarkan begitu banyak biaya hanya untuk kenyamanan kaki Anda? Alangkah hematnya jika Anda potong sedikit kulit lalu lapiskan ke kaki Anda?” kata si penasihat bijak.

Raja terkejut. Itu ide cerdas. Raja setuju. Ia batalkan proyek melapisi jalan dengan kulit. Ia perintahkan seorang pandai melapisi alas kakinya dengan kulit. Ya, sang raja memilih membuat “sepatu” untuk mengatasi rasa nyeri akibat perjalanan mengunjungi rakyatnya.

Teman, ada pelajaran yang menarik dari kisah di atas. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, tidak perlu dengan jalan mengubah dunia. Kadang cukup dengan mengubah cara pandang kita saja. Karena, segala ketidaknyamanan yang kita rasakan seringkali berasal dari kekeliruan kita dalam menafsirkan dunia.

Sumber: Islampos