Wednesday, 11 March 2015

Saat Kehilangan Orang-orang Tercinta



Sebuah pepatah mengatakan setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Setiap sesuatu yang datang pasti akan pergi. Setiap yang lahir pasti akan mati. Tidak ada yang tetap di dunia ini, semuanya akan berubah. Yang Maha Kekal hanyalah Allah SWT. Hal itu sudah ditetapkan oleh Allah SWT:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾

Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan (yang) tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Q.S. Ar-Rahmaan (55):26-27)

Hidup ini memang terkadang tidak bisa memilih. Kita tidak bisa menghindar dari bagian pahit dari kehidupan. Sesuatu ketika seseorang harus kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya.

Karena itu semua adalah bagian dari kehidupan kita. Semuanya harus diterima dengan lapang dada sebagaimana ketika pertama kali menerima orang yang dicintai tersebut. Memang sudah menjadi sunnatullah bahwa sesuatu itu ada dan tiada. Berawal dari tidak ada kemudian jadi ada dan terakhir nantinya akan kembali menjadai tiada. Itu adalah hal yang sudah pasti dan tidak ada yang bisa menawar atau menghindar.

Namun terkadang banyak diantara kita yang tidak bisa melihat dari sisi yang lain dari hilangnya orang tercinta. Kita biasanya hanya melihat dari sisi ‘kita’nya tanpa berusaha melihat dari sisi-sisi lainnya, sehingga ketika ada orang yang dicintai telah pergi, kita langsung mengukur dan menilainya berdasar sudut pandang kita.

Maka ketika hal itu tidak sesuai dengan keinginan atau bertentangan dengan apa yang kita harapkan, tentu kita tidak akan begitu saja menerima apa yang telah terjadi itu. Kita sering kali menyalahkan orang lain atau sesuatu faktor lain atas kejadian yang tidak sesuai dengan keinginan kita, bahkan tidak jarang ada orang yang secara tidak tahu diri dan begitu sombongnya sampai-sampai berani menyalahkan Allah SWT atas perginya orang yang dicintainya. Sungguh malang nasib orang seperti itu.Naudzubillah min dzaalik.” 😢

Hendaknya orang yang sedang merasakan kesedihan yang cukup mendalam berkaca kepada orang lain yang nasibnya jauh lebih sedih dan sakit dari pada apa yang telah menimpa padanya.


via al-manar : http://almanar.co.id/takiyatun-nafs/saat-kehilangan-orang-orang-tercinta.html

Landing page http://berdakwah.sigit.co.uk

Pelancar dan Penghamba Rezeki



Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada empat hal pelancar rezeki:

1- shalat malam
2- memperbanyak istighfar di waktu sahur
3- membiasakan sedekah
4- berdzikir di pagi dan petang

Ada empat hal penghambat rezeki:

1- tidur pagi
2- sedikit shalat
3- malas-malasan
4- sifat khianat

Berjabat Tangan

Berjabat tangan adalah sunnah yang disyari'atkan dan adab mulia para shahabat Radhiyallahu anhum yang dipraktikkan sesama mereka tatkala berjumpa.

Imam Bukhâri rahimahullah dalam kitab al-Isti'dzân dalam kitab Shahihnya memuat sebuah bab yang berjudul Babul Mushafahah (Bab: Berjabat Tangan). Dalam bab ini, beliau rahimahullah membawakan beberapa hadits yang menjelaskan sunnahnya berjabat tangan tatkala bersua, diantaranya :

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسٍ أَكَانَتْ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ 

Dari Qatâdah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Saya bertanya kepada Anas (bin Mâlik) Radhiyallahu anhu , ‘Apakah berjabat tangan dilakukan dikalangan para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?’ Beliau Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya’ [1]

Dalam riwayat lain :

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَلاَقَوْا تَصَافَحُوْا وَإِذَا قَدِمُوْا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوْا 

Adalah shahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mereka bertemu, mereka saling berjabat tangan dan apabila kembali dari perjalanan mereka saling berangkulan .[2] 

Dan hadits Ka'ab Bin Mâlik Radhiyallahu anhu setelah turunnya taubat beliau, ia berkata :

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ حَوْلَهُ النَّاسُ فَقَامَ إِلَيَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي

Saya masuk masjid (Nabawi) sementara Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dalam keadaan duduk dan dikelilingi oleh manusia (para shahabat), lalu Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu berlari ( kearahku) lalu beliau Radhiyallahu anhu berjabat tangan denganku dan memberikan ucapan selamat kepadaku.

P.S : jabat tangan yg dimaksud adalah antara sesama laki-laki, bkn antara laki-laki dan perempuan (yg bkn mahram).

Via : http://almanhaj.or.id/content/3337/slash/0/berjabat-tangan-sunnahkah/
Rujukan : http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/jabat-tangan-dengan-wanita-dalam-pandangan-4-madzhab.html

Tuesday, 10 March 2015

Apa Susahnya?



Sambil ngantri beristighfar 100 kali atau lebih  dari itu... sambil bertasbih... bertahlil... bertakbir... dan dzikir-dzikir lainnya.

Detik-detik jangan sampai berlalu sia-sia.
Tentu sangat tidak susah, akan tetapi menjadi sangat susah tatkala tangan gatel ingin baca berita di internet, karena waktu menunggu paling asyik buat ngenet, atau buka FB, atau ngetweet, nge-BBM, nge-WA, dll.

Tidak dilarang sih, akan tetapi jangan lupa diselingi dengan dzikir.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram (QS. ar-Ro'du: 28)

Monday, 9 March 2015

Mengenal Cara Membersihkan Batin dan Mensucikan Hati



Latifatul Qalbi, ini erat kaitannya dengan jantung manusia. Letaknya di bawah payudara. Dari sini lahir sifat-sifat kemusyrikan (tahayul dan khufarat). Untuk mensucikannya, kita perlu memperbanyak dzikrullah lahir dan batin, terutama zikir bil qalb.

Latifatur Ruhi, berkaitan dengan paru-paru manusia. Tempat ini merupakan sumber lahirnya sifat nafsu kebinatangan sehingga menimbulkan sifat-sifat murka, tamak, zalim, dendam. Usaha untuk mengikis sifat-sifat ini adalah dengan mujahadah secara sungguh-sungguh dan istiqomah. Syahadat dan kalimah tayyibah perlu diperbanyak.

Latifatus Sirri, merupakan sifat binatang buas. Beberapa akibat yang nampak bagi pemiliknya adalah suka menuruti hawa nafsu yang buruk dan membahayakan diri sendiri. Bentuknya adalah nafsu syahwat yang berlebih-lebihan, angan-angan negatif, melamun tidak pada tempatnya, mengkhayal yang sukar untuk dicapai. Usaha untuk mengobatinya adalah memperbanyak dzikir dengan suara halus dan khusyu’, berusaha menghidupkan rasa kasih sayang pada orang lain, menyantuni dan melindungi wanita, bergaul dengan orang yang bertaqwa.

Latifatul khafy, terletak dalam limpa manusia. sifat-sifat menyerupai sifat syaiton timbul dari sini yaitu hasad, iri, tidak jujur, khianat, provokatif, dll. Yang diperlukan untuk mengobatinya adalah dzikir bil qalb dan menghidupkan sifat sabar dan syukur.

Latifatul Akhfa, terletak dalam empedu. Sifat yang terlahir adalah ujub, takabur, bangga diri dan pamer. Bahayanya sifat ini dapat menghancurkan amal ibadah yang dilakukan. Untuk menghacurkan sifat ini adalah dengan taqarrub muaqabah (mencermati dan menghisap diri) serta memperbanyak dzikir asmaul husna yang berkaitan dengan keagungan dan kebesaran Allah SWT.

Latifatun Nafsun Natifa, pada kening manusia. Dari tempat tersebut bersumber nafsu ammaratun bissu’ (emosi yang berlebihan, murka tak terkendali, tidak ada dama dan kasih sayang). Mendorong banyak angan-angan, sifat keras dan kasar dalam jiwa pemiliknya.Perlu memperbanyak membaca asmaul husna yang berhubungan dengan kasih sayang dan kelembutan Allah SWT.

Latifah Kullul Jasad, yakni sifat jahil dan lalai, tergesa-gesa. Perlu memperbanyak istighfar dan do’a yang memohon dilindungi dari lalai dan malas, menghindar dari fikiran pada keduniawian dan beribadah sungguh-sungguh.

Wallahu a’lam

Sunday, 8 March 2015

Bersabarlah Ukhti...



Akan tiba masa dimana seorang pria datang dengan membawa sesuatu hal yang lebih manis dibanding coklat dan bunga.

Ia yang selama ini secara diam-diam mengucapkan namamu dalam setiap panjatan doanya, tanpa paksaan, tanpa diminta, ia memohonkan harapan-harapan yang dimilikinya. Mendukungmu dari balik kepala tanpa banyak suara.

Adakah bentuk cinta tertinggi selain menyelipkan namamu dalam bilik mesra dengan Allah? 😳

Bila tiba waktunya, ia akan mendedikasikan waktu untuk mendampingimu kapanpun dibutuhkan, Ia pula yang nantinya akan selalu menyisipkan tangan dijarimu untuk kembali. 😳

Bersabarlah wahai ukhti,
Janganlah terburu-buru ingin menikah hanya karena teman-temanmu sudah banyak yang menikah.

Bukankahkah kita semua menginkan pernikahan yang berkah dan indah?

Yakin bahwa Allah sudah mempersiapkan dan akan menghidangkan apabila kita telah pantas untuk mendapatkannya.
Insha Allah..

Jangan Berlama-lama di Tempat Tercela



Rasulullah SAW pernah bersabda, "sesungguhnya tempat buah  hajat ini dihadiri (oleh setan)..." (HR. Ahmad 4/373, Ibnu Majah:296, Ibnu Hibban: 1406)

A. Berdoa
maka jika salah seorang dari kalian hendak memasuki kamar mandi, ucapkanlah: " Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan..." (HR. al-Bukhari:142, Muslim: 375, at-Tarmidzi: 606, Ibnu Majah: 297)

B. Dahulukan Kaki kiri
Rasulullah menyukai mendahulukan bagian kanan ketika masuk masjid, mengenakan pakaian , dan seluruh perkara kebaikan. Sebagaimana hadits , "Nabi SAW lebih menyukai mendahulukan bagian kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, tatkala bersuci dan dalam setiap perkara (kebaikan)..." (HR. al-Bukhari: 168, Muslim: 268). Adapun saat hendak memasuki WC, kita mendahulukan kaki kiri. Hal ini menunjukkan WC adalah tempat kotor.