Wednesday, 18 June 2014

Jangan Sampai Lalai Menjelang Ramadhan


Kadang terjadi sesuatu hal yang menyedihkan dikalangan umat Islam, kaum muslimin dan muslimat, terutama di zaman kita saat ini lalai dzikir kepada Allah SWT, padahal Ramadhan musim kebaikan, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lalai membaca Al-Qur’an, padahal bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, ada juga yang lalai untuk senantiasa menjaga diri dari perbuatan yang dapat membatalkan atau mengurangi nilai puasanya hanya memahami puasa sekedar menahan diri dari makan dan minum dan syahwat (hubungan suami istri disiang hari) namun lupa dan lalai bahwa puasa juga harus menahan diri dari lisan mengeluarkan ucapan yang kotor, berbuat fasik yaitu perbuatan yang melanggar dan keluar dari ketaatan kepada Allah, bertindak bodoh atau tidak mampu menahan amarah sehigga jika tersinggung sedikit langsung naik pitam padahal dirinya sedang berpuasa… , sehingga wajar Rasulullah saw sejak awal mengingatkan kepada kita. dalam sabdanya:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai, maka jika salah seorang diantara kalian puasa janganlah berkata kotor, jangan bertindak bodoh, dan jika ada seseorang mengjarnya bertengkar atau mencacinya maka katakan kepadanya saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa”.(Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan:
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَفْسُقْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ جُهِلَ عَلَيْهِ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Jika pada suatu hari seseorang diantara kalian puasa maka jangan berkata kotor, jangan berbuat fasik dan jangan bertindak bodoh, dan jika ada yang bertindak bodoh pada dirinya maka katakanlah saya orang yang sedang berpuasa”. (Ahmad)
Dari hadits diatas dapat disimpulkan bahwa orang yang berpuasa, selain menjaga diri dari makan, minum dan syahwat, juga harus membentengi diri dari melakukan empat hal:
1. Tindakan yang berhubungan dengan lisan dan badan, berbuat rafats
2. Tindakan yang berhubungan dengan iman, berbuat fasik
3. Tindakan yang berhubungan dengan sifat, bertindak bodoh
4. Tindakan yang berhubugan dengan kesabaran diri, tidak mudah terpancing emosi
Imam Jabir pernah berkata:
إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب، ودع عنك أذى الجار، وليكن عليك وقار وسكينة، ولا يكن يوم صومك ويوم فطرك سواء
Jika Anda berpuasa maka puasakanlah telingamu, pandanganmu, dan lisanmu dari sesuatu yang dusta, tinggalkan dari perbuatan menyakiti tetangga, dan jadilah orang yang tenang dan damai, dan jangan sampai hari puasa dengan hari biasamu (tidak berpuasa) itu sama.
Sementara sebagian salafussalih juga berkata:
“Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum , dan hal tersebut tidak akan menyempurnakan kedekatan diri kepada llah dengan hanya meninggalkan syahwat yang mubah kecuali setelah bertaqarrub kepada Allah dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, dalam setiap kondiri, dan seorang muslim jika pada setiap saat wajib meninggalkan yang diharamkan maka pada waktu puasa lebih ditekankan lagi, dan orang yang melakukan tindakan haram pada selain bulan puasa berhak mendapatkan hukuman namun jika melakukannya pada saat puasa maka disamping mendapatkan dosa dan hukuman, juga berpengaruh pada puasanya; pahala berkurang atau batal. Puasa hakiki adalah puasa perut dari makan dan minum, puasa anggota tubuh dari dosa, puasa lisan dari ucapan keji dan kotor, puasa telinga dari mendengarkan musik dan ghibah serta adu domba, dan puasa mata dari penglihatan yang diharamkan”.
Bahkan di antara fenomena lalai tersebut ada yang berakibat pada kerasnya hati:
- Melewati malam hari dengan begadang tanpa dzikir dan tilawatil qur’an dan tidur pada siang harinya, sehingga mengabaikan banyak waktu kewajiban shalat dan tidak tepat waktu dalam menunaikannya.
- Mengabaikan waktu-waktu penting dengan mengikuti program-program tidak bermanfaat, seperti nonton sinetron, malam dan siang hari, dan enggan mencari kerja yang bermanfaat dan amal yang baik.
- Banyak melakukan pertemuan-pertemuan dan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat yang melalaikan, tempat sendau gurau dan mungkar.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Kewajiban bagi orang yang berpuasa dan yang lainnya adalah bertaqwa kepada Allah SWT terhadap apa yang datang dan pergi dari seluruh waktu-waktunya, berhati-hati terhadap perbuatan yang diharamkan Allah SWT, seperti menyaksikan film-film telanjang yang menampakkan sesuatu yang diharamkan untuk dilihat, nyanyian-nyanyian, alat-alat pembuat lalai, seruan atau ajakan-ajakan yang menyesatkan… Karena perbuatan itu bagian dari yang mungkar dan perbuatan mungkar, menyebabkan keras dan sakitnya hati, menganggap remeh syariat Allah SWT, dan merasa berat terhadap kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.” (Majmu fatawa Abdul Aziz bin Baz; 4/158)
Jangan sampai kita termasuk orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan nilai dan pahala puasa kecuali hanyalah mendapatkan cape dan letih dari menahan haus dan lapar, berdiri untuk shalat tarawih dan lain-lain. Seperti yang disabdakan nabi saw:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan nilai dan pahala puasa kecuali hanyalah menahan lapar dan haus dan betapa banyak orang yang bangun malam tidak mendapatkan pahala bangun malam kecuali hanyalah letih dan begadang saja”
Dan jangan sampai pula setelah Allah memberikan kesempatan kepada kita mengikuti bulan ramadhan yang penuh berkah dan ampunan namun kita tidak dapat meraihnya, sebagaimana yang didoakan oleh malaikat jibril dan diaminkan oleh nabi..
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ، أَوْ بَعُدَ، دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
“Celaka dan kecewalah seseorang yang masuk pada bulan ramadhan namun tidak mendapatkan ampunan”. (Thabrani)
Sumber: ngajionline

Monday, 16 June 2014

Adab Menasehati Orang Lain



SEBAB hidup tidaklah melulu berjalan lurus. Jika kita salah, boleh jadi ada hal yang kita tidak ketahui. Karena setiap orang tentu mendambakan keselamatan hidup. Keselamatan dari kerusakan dan hal-hal yang membahayakan dirinya—lahir atau batin. Itulah hikmah mengapa kita mesti saling menasehati.
Sesungguhnya adalah hal yang penting sebuah nasehat dalam kehidupan kita. Agar kita tahu kekurangan kita dan segera memperbaikinya. Harus ada yang memberitahukan kepada kita tentang hal-hal yang tidak kita ketahui. Pemberitahuan itulah yang bisa jadi sebuah nasehat, masukan atau kritikan.
Rasulullah saw. mengatakan, “seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya,” (HR. Al-Bukhari)
Orang muslim yang benar-benar bertakwa bukan hanya lepas dari sifat-sifat tercela, tetapi juga harus menghiasi dirinya dengan sifat dan akhlak yang mulia, positif dan konstruktif, yaitu akhlak suka saling menasehati dan jujur, dengan kepercayaan bahwa agama adalah nasehat, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah melalui sabdanya
Agama itu nasehat, Kami bertanya, Untuk siapakah itu? Beliau menjawab, Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awam dari mereka” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berikut adab dalam memberi nasehat kepada orang lan yang di sarikan dari buku berjudul: “Selembut Perkataan Nabimu – Kiat agar Nasihat Laksana Embun Yang Menyejukkan”, karya Muhammad Abu Shu’ailaik.
1. Ikhlaskan niat
Semata-mata untuk mengharapakan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang demikian ini berarti pemberi nasehat akan mendapatkan ganjaran dari Allah Jalla wa ‘Ala, sehingga Allah pun akan membantu engkau agar orang yang dinasehati diberikan hidayah oleh-Nya.
2. Menasehati Secara Rahasia
Ini adalah adab yang kebanyakan dari kita tidaklah mengetahuinya. Perhatikanlah, bahwa penerima nasehat adalah orang yang sangat butuh untuk ditutupi segala keburukannya, dan diperbaiki kekurangan-kekurangannya. Maka, tidaklah nasehat akan mudah diterima bila disampaikan secara rahasia.
Imam Abu Hatim bin Hibban Al Busti rahimahumullahberkata: “Namun nasehat tidaklah wajib diberikan kecuali dengan cara rahasia. Karena orang yang menasehati saudaranya secara terang-terangan pada sejatinya ia telah memperburuknya (keadaan penerima nasehat). Barangsiapa yang memberinasehat secara rahasia, maka dia telah menghiasinya. Maka menyampaikan sesuatu kepada seseorang muslim dengan cara menghiasinya, lebih utama daripada bermaksud untuk memburukkannya”. (Raudhatul Uqala’, hlm 196)
3. Memberi nasehat dengan Halus, Penuh Adab dan Lemah Lembut.
Hal ini dikarenakan memberi nasehat ibaratnya seperti membuka pintu. Sedangkan sebuah pintu tidak akan bisa dibuka kecuali dengan kunci yang pas & tepat. Maka pintu itu adalah hati, dan kuncinya adalah nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, santun, dan halus. Ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam:
Sesungguhnya kelemahlembutan tidaklah berada dalam sesuatu kecuali menghiasinya. Dan tidaklah terpisah dari sesuatu kecuali ia perburuk.” (HR. Muslim)
4. Tidak Memaksa
Orang yang menasehati tidaklah berhak sama sekali untuk menerima nasehatnya. Karena pemberi nasehat adalah seseorang yang membimbing menuju kebaikan. Sehingga hak pemberi nasehat hanyalah menyampaikan dan memberi arahan saja.
5. Memilih Waktu yang Tepat untuk Memberi Nasehat
Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu berkata:
Hati itu memiliki rasa suka dan keterbukaan. Hati juga memiliki kemalasan dan penolakan. Maka raihlah ketika ia suka dan menerima. Dan tinggalkanlah ia ketika ia malas dan menolak.” (Al –Adab Asy-Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih)
 sumber : islampos

Adab Berbicara, Berdebat dan Mendengar Pendapat



Adab Berbicara
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:
“Barangsiapa yang beriman pada Allah Subhanahu Wata’ala dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)
2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:
“Bahwasanya perkataan Rasulullah Saw itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)
3. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabishallallahu alaihi wasallam:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi shallallahu alaihi wasallam:
“Orang-orang yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena khuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:
Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu Abdurrahman (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi shallallahu alaihi wasallam:
dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau shallallahu alaihi wasallam:
mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau shallallahu alaihi wasallam:
mendatangi rumah seseorang maka beliau shallallahu alaihi wasallam:
pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabishallallahu alaihi wasallam:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah Subhanahu Wata’ala keridhoan-Nya bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah Subhanahu Wata’ala yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah Subhanahu Wata’ala mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi shallallahu alaihi wasallam:
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi shallallahu alaihi wasallam:
“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabishallallahu alaihi wasallam:
“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi shallallahu alaihi wasallam:
“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi Allah Subhanahu Wata’ala di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)
10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi shallallahu alaihi wasallam:
“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi shallallahu alaihi wasallam:
“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)
12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabishallallahu alaihi wasallam:
“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi shallallahu alaihi wasallam, dari Abdurrahman bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga Allah mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi Allah, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)
Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabishallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)
Adab Mendengar
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara
Adab Menolak / Tidak Setuju
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.
Wamaa taufiiqi illaa billaah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.
[al-ikhwan]
sumber: islampos

Wanita Shalihah Itu Memiliki Sifat Malu (1)




SAAT ini, banyak wanita yang menitikberatkan pandangannya pada kepuasan dan kebebasan hidup dengan tidak lagi mengindahkan norma-norma agama maupun masyrakat. Menurut pandangan mereka, keindahan tubuhnya adalah anugerah yang tidak harus disembunyikan. Lekuk-lekuk tubuh yang di dunia modern disebut “artistik” sengaja ditonjolkan lewat baju yang ekstra ketat atau malah tidak dibungkus pakaian.
Wittles dalam bukunya Structure Des Criminellen Psychopaten sebagaimana yang dikutip oleh Abu Al Ghifari menyebut wanita semacam itu sebagai wanita immoral atau wanita yang tidak tahu malu, lazim pula disebut dengan “loosed women.” Fenomena loosed women itu sendiri adalah fenomena yang tidak bisa dipisahkan dari dunia modern. Ketika manusia dihadapkan pada kebutuhan hidup yang terus meningkat, sementara lapangan pekerjaan semakin sulit, maka orang akan cenderung berpirkir praktis untuk mendapatkan uang. Jalan yang termudah adalah menjual harga diri untuk disuguhkan kepada khalayak umum dengan mengesampingkan norma-norma agama.
Pupusnya rasa malu seorang wanita terlihat dari kerelaan “menjajakan tubuhnya” demi popularitas. Tak heran, jika banyak wanita yang berantrian panjang berebut kursi popularitas hingga siap menanggalkan selutuh auratnya. Akhirnya, menjamurlah tabloid-tabloid, klip-klip lagu, dan sinetron-sinetron yang berlatar belakang wanita setengah telanjang menjajakan tubuhnya di tengah-tengah generasi muda yang sedang bingung mancari jati diri. Untuk legalisasi prilakunya, mereka berlindung di balik hak asasi manusia (HAM). Kebebasan berekspresi, seni, suka-suka gue, dan alasan lainnya yang sebenarnya hanya topeng dari kebobrokan moral.
Pertanyaan yang muncul adalah kemanakah rasa malu itu? Padahal malu adalah sebagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman,” (HR. Bukahri-Muslim).
Hadis lain menyatakan, “Imran bin Hushain Ra. berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda: Malu itu hanya akan menimbulkan kebakan semata’.” (HR. Bukhari-Muslim).
Wanita shalihah akan merasa malu dan tidak rela bertelanjang, meskipun dalam keadaan menyendiri. Apalagi bila dijadikan objek tontonan untuk meraih keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Ia ingat dengan sabda Rasulullah SAW, “Derajat malu yang paling tinggi adalah tidak rela bertelanjang meskipun dalam keadaan sendiri, semata-mata karena malu kepada Allah SWT,” (HR. Tirmidzi).
Imam Abu Zakaria Yahya al-Nawawi dalam kitabnya Riyadh al-Shalihin, menerangkan bahwa yang dmaksud malu adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan perbuatan rendah atau tercela.
BERSAMBUNG
sumber : islampos 

Thursday, 5 June 2014

Dakwah by Artwork

kamu suka ngedesain grafis? atau lagi belajar tentang desain grafis, yuk, sambil belajar, sambil nyoba, kenapa gak sekalian dicoba buat media dakwah? dengan media ini, so pasti orang-orang bakalan lebih tertarik untuk diajak kebaikan. Bingung gimana harus memulai? gak punya contoh? nih ane kasih beberapa contohnya








Saturday, 24 May 2014

Mengapa Allah Menciptakan Kantuk?



PERNAHKAH Anda mengantuk? Saat sedang bekerja di kantor tiba-tiba anda menguap lalu mata anda tiba-tiba melemah dan terkantuk-kantuk. Hampir semua orang merasakan hal tersebut saat mengantuk.
Lalu, kenapa seseorang bisa mengantuk?
Berikut adalah beberapa penyebab orang mengantuk diantaranya yaitu :
  1. Adanya Gangguan Tidur. Gangguan tidur dalam hal ini dapat kita contohkan dengan insomnia atau beberapa macam gangguan tidur yang lain. Dengan adanya gangguan tersebut maka kualitas dan kwantitas tidur pun akan berkurang dan akan menyebabkan kita seringkali mengantuk.
  2. Tidur Yang Kurang. Maksudnya adalah seperti yang telah diterangkan di atas bahwasannya bila tidak terpenuhi kebutuhan tidur yang baik maka hal ini tentunya akan menyebabkan orang mengantuk.
  3. Penyakit Diabetes Melitus (DM). Penyakit diabetes melitus ini dikenal dengan Tiga gejalanya yang khas yaitu poliuria (banyak kencing), polidipsi, poliphagia (banyak makan) dan seringkali gejalanya adanya terbangun malam hari karena ingin kencing. Maka hal ini bisa menyebabkan orang akan mengantuk di keesokan harinya.
  4. Kurang Darah (Anemia). Bila kita menderita anemia maka akan menyebabkan oksigen yang dibawa darah ke otak akan berkurang. Dengan berkurangnya pasokan oksigen ke otak maka salah satunya akan menyebabkan orang mengantuk.
Nah, adakah hikmahnya Allah menciptakan rasa ngantuk?
Yang pasti, bahwa mengantuk adalah anugrah. Mengantuk adalah kasih sayang Allah kepada umatnya.
Bayangkan jika Allah tidak menciptakan rasa kantuk. Mungkin supir truk yang sedang membawa muatan dengan kecepatan tinggi akan tidur seketika jika “ngantuk” tidak Allah Ciptakan

Sumber :islampos
 

Friday, 23 May 2014

Tips Mengatasi Kantuk Saat Khutbah Jum'at



SETIAP hari Jum’at para kaum Muslimin selalu menjalankan ibadah shalat Jum’at. Itu merupakan suatu kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada para pria. Sebagai umat Islam yang taat dengan aturan Islam, maka Anda harus melaksanakan salah satu kewajiban ini. Walaupun, Anda sedang mencari rezeki untuk kehidupan di dunia. Segala urusan harus Anda tinggalkan, terutama dalam urusan duniawi.
Sering kali kita melihat orang yang mengantuk saat mendengarkan khutbah. Bahkan mungkin, Anda sendiri pernah mengalaminya. Bagaimana caranya agar Anda tidak mengantuk lagi saat mendengarkan khutbah Jum’at?
8 tips berikut ini, mudah-mudahan dapat menjadi cara yang baik untuk menghilangkan rasa ngantuk saat mendengarkan khutbah.
1. Sebelum berangkat sholat Jum’at usahakan mandi junub terlebih dahulu, biar badan segar dan sejuk. Dan karena badan segar dan sejuk, ngantuk pun hilang. Badan segar membuat Anda semangat, apalagi untuk shalat jum’at.
2. Kalau masih mengantuk, maka jangan sarapan terlalu banyak paginya. Karena sarapan terlalu banyak akan membuat Anda mengantuk.
3. Kalau Anda tidak bekerja di hari Jum’at atau bekerja setelah shalat Jum’at, maka tidur dulu sejenak sebelum shalat Jum’at bisa jadi salah satu solusinya.
4. Kalau ketiga cara di atas masih gagal, mungkin salah satu cara yang sedikit ampuh adalah minum kopi sebelum berangkat shalat Jum’at. Kopi bisa jadi salah satu cara yang ampuh untuk membuat kita terjaga dan tidak mengantuk.
5. Datang lebih awal, duduk di depan atau dekat mimbar. Jangan duduk di dekat tiang atau di belakang sambil nyandar tembok.
6. Kalau Anda masih mengantuk geser tempat duduk, atau ganti tempat duduk (kalau masih ada yang kosong). Atau Anda bisa mengambil air wudhu dan berwudhu lagi.
7. Kalau Anda tetap mengantuk, maka bawa catatan dan catat isi khutbah. Hal ini diperbolehkan oleh para ulama. Karena isi khutbah adalah ilmu dan dengan mencatatnya ilmu tersebut telah diikat. Yang tidak diperbolehkan adalah membuat kegiatan yang sia-sia ketika khutbah berlangsung, namun menulis ilmu yang ada pada khutbah itu bukanlah perbuatan yang sia-sia dan salah satu ibadah.
8. Harus punya niat yang kuat bahwa pada saat khutbah nanti ingin benar-benar memahami isi khutbah, mendengarkan ceramah dan tidak akan mengantuk. Tanpa komitmen dari awal, Anda akan mengantuk nantinya. 

Sumber : islampos